Hendrasilondae’s Weblog

Health Safety and Environment weblog

LULO, Tarian keakraban masyarakat Kendari Sulawesi Tenggara

Lulo, Tari Keakraban Masyarakat Kendari

YAMIN INDAS

Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, baru saja kebanjiran tamu peserta Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Nasional XXI Tahun 2006 yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 29 Juli 2006. Masyarakat suku Tolaki, yang lazim menyebut diri orang Kendari dan tinggal di Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, dan orang Kolaka yang mendiami Kabupaten Kolaka, punya cara istimewa untuk menghormati dan mengakrabi tamu.

Bila mengadakan perjamuan atau malam ramah tamah, lazimnya acara itu diisi dengan atraksi kesenian. Di situ akan ditampilkan atraksi inti, yaitu melulo, tarian tradisional yang diperagakan secara massal dan membentuk lingkaran. Tuan rumah biasanya menurunkan gadis-gadis cantik pilihan ke arena untuk mengawali acara itu.

Menari lulo atau melulo tak rumit. Dengan iringan musik pop, dangdut, atau bunyi gong, struktur gerakan akan dengan mudah terbangun. Mula-mula jari tangan dikaitkan dengan jari tangan pasangan kita sedemikian rupa sehingga telapak tangan masing-masing saling bertaut. Posisi telapak tangan pria harus di bawah telapak tangan wanita. Ini etika yang harus diperhatikan agar gerakan tetap harmonis dan wilayah dada wanita pasangan menari tak tersentuh.

Tangan yang sudah saling mengait digerakkan turun naik bersama dengan pasangan untuk mengimbangi ayunan kaki yang maju mundur, ke kiri dan kanan, dengan tempo gerakan satu dua sesuai irama pengiring. Dalam satu putaran, penari lulo berstatus pemula pasti bisa mahir karena dia akan dibimbing oleh gadis atau pria pasangannya.

Bagi kalangan muda-mudi, acara lulo merupakan kesempatan berkomunikasi, saling mengukur rasa dan perasaan terhadap pasangan masing-masing, siapa tahu setelah itu bisa terjadi hubungan pribadi yang lebih jauh.

Lebih dari itu, tari lulo menjadi sarana dan media masyarakat Tolaki untuk meningkatkan pergaulan dengan warga masyarakat lain tanpa mengenal sekat etnis, agama, status sosial, kelompok, atau usia. Atraksi tari lulo adalah sebuah konfigurasi sosial dalam keanekaragaman.

Tak heran jika tarian itu sangat digemari dan menjadi milik seluruh warga Sulawesi Tenggara yang terdiri dari berbagai etnis, seperti Buton, Muna, Tolaki, dan Moronene. Etnis Moronene juga mengenal lulo sebagai salah satu tarian tradisionalnya. Suku Moronene adalah penduduk tertua di jazirah Sultra. Daerah Moronene, termasuk Pulau Kabaena, kini menjadi wilayah Kabupaten Bombana.

Dewa padi

Seni tari lulo pada awalnya merupakan ritual untuk memuja dewa padi yang disebut Sanggoleo Mbae dalam istilah Tolaki, atau Sangkoleo Ngkina dalam bahasa Moronene/Kabaena. Karena itu, gerakan dasar tarian ini menggambarkan orang mengirik padi. Kata lulo itu sendiri berasal dari ungkapan molulowi yang berarti menginjak-injak onggokan padi untuk melepaskan bulir dari tangkainya.

Dalam bentuk aslinya (tradisional), tari lulo menampilkan banyak variasi (gaya) kendati gerakan dasarnya sama. Sebagaimana dituturkan Arsamid Al Ashur (63), tokoh adat dan budaya Tolaki, tarian tradisional itu terdiri dari lulo sangia, lulo nilakoako, lulo ndinuka-tuka, lulo leba-leba, dan lulo leba.

Irama pengiring juga bunyinya bervariasi sesuai dengan alat yang digunakan. Irama tolongi dongi-dongi menggunakan gong kecil. Irama mode-mode salaka memakai gong ceper. Irama tundu watu ngganeko menggunakan tiga gong dengan ukuran bertingkat, sedangkan irama pundi madi talopo menggunakan tiga gong yang besarnya sama.

Di zaman dahulu, sebelum dikenal alat pengiring dari gong, pengiring lulo adalah gendang yang terbuat dari potongan silinder kayu yang salah satu ujungnya ditutupi kulit kayu atau kulit binatang. Ada juga yang menggunakan sejenis kulintang dari bambu yang dilubangi dan menghasilkan bunyi.

Lulo asli versi Moronene lain lagi. Di s ini ada lulo pinekara-karambau, lulo tangiongio, lulo inoloti, lulo modudenge, dan lulo pinaheahi. Adapun lulo sangia versi Tolaki, oleh warga Kabaena, disebut lulo tunggengge.

Dalam perkembangannya tari lulo tidak hanya ditampilkan pada pesta panen dalam rangka pemujaan, melainkan juga pada pesta perkawinan dan kenduri lainnya, termasuk untuk menghibur tamu. Dengan demikian, lulo dapat diadakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

Jenis lulo yang umum ditampilkan, baik di daratan besar jazirah Sultra maupun daerah kepulauan, adalah lulo sangia dengan pengiring gong besar yang berbunggul campuran emas atau musik band.

Kota Kendari yang berpenduduk 222.955 jiwa (berdasarkan data pada tahun 2004) sering dijuluki kota lulo. Pasalnya, kota berpanorama teluk indah itu hampir setiap hari menggelar lulo, baik siang maupun malam, yang diadakan warga kota. Permainan ini bisa dilakukan di lapangan terbuka dan di dalam gedung, situasi dan kebutuhan.

Pesertanya tak terbatas. Semakin banyak orang melulo, suasana akan semakin heboh dan asyik. Ketika merayakan Hari Ulang Tahun Ke-10 Kota Kendari pada tahun 2005, misalnya, Wali Kota Kendari Masyhur Masie Abunawas mengadakan acara lulo di Kendari Beach. Pesertanya lebih dari 3.000 orang.

Boleh jadi peristiwa itu merupakan pergelaran kolosal terbesar dalam sejarah seni tari tradisional Indonesia. Rekor tersebut kemudian tercatat pada Museum Rekor Indonesia.

About these ads

November 4, 2008 - Posted by | Uncategorized |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: